Artikel Writingthon Sumedang
LITERASI
SUMEDANG; PERTUMBUHAN AGROWISATA
DAN PENGUATAN EKONOMI KREATIF
Suriyati
(Founder
Forum Literasi Kundur, Instruktur Literasi Nasional)
“Mewujudkan
perekonomian daerah yang tangguh dan berkelanjutan berbasis
pada agribisnis, pariwisata dan industri.” –
Misi Kabupaten Sumedang 2005 - 2015
Dari
Kota Beludru hingga Tahu yang Iconic
Bahwa lanskap
sejarah penting dilestarikan untuk memberikan suatu makna simbolis bagi
peristiwa terdahulu. Sejarah yang memiliki fokus kepada adat budaya diantara
kontribusi manusia terhadat suatu tempat. Lanskap sejarah Sumedang yang dulu
dikenal sebagai kota yang sangat rindang, teduh dan segar karena banyak
perpohonan yang menyediakan oksigen membuat Sumedang mendapat julukan kota
buludru. Sebutan kota buludru sangat melekat di Sumedang pada tahun 1960. Dalam
buku tentang Sejarah Bupati Sumedang
yang diterbitkan oleh Perpustakaan Daerah Sumedang, predikat Sumedang Kota
Beludru disematkan karena Bupati Muhammad Chafil terus menggalakkan kebersihan,
keindahan dan ketertiban. Alasan yang
paling menonjol dari sebutan Kota Beludru ialah banyaknya pohon asam dan pohon
mahoni di sepanjang jalan protokol. Namun sungguh disayangkan, pohon-pohon itu
mulai ditebang pada tahun 1970-an dengan alasan penataan kota dan pelebaran
jalan. Ini salah satu tugas besar bagi Sumedang untuk mengembalikan citranya
sebagai Kota Buludru.
Selain Kota
Buludru, jika berbicara tentang Sumedang maka yang terlintas dipikiran setiap
orang adalah tahunya yang sangat iconic.
Tahu, atau Tou Fu dalam bahasa
Tionghoa memang menjadi daya tarik tersendiri bagi kekayaan Kota Sumedang.
Sebagai warga Kepulauan Riau, bahkan ketika mendengar kata Sumedang pertama
kali maka yang terpikirkan oleh saya adalah kegurihan tahunya. Mungkin banyak
yang sudah tahu tentang kuliner Sumedang yang satu ini, namun tak banyak yang mengira
bahwa tahu ini lahir dari seorang imigran Cina.
Diceritakan
dari buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di
Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), tahu Boen
Keng merupakan pelopor lahirnya tahu Sumedang yang sangat iconic itu. Kisahnya bermula hampir seratus
tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1917. Seorang imigran Cina, Ong Kino
membuat tahu tersebut sekedar untuk menyenangkan isteri tercintanya. Belakangan,
tahu itu ia suguhkan juga kepada teman-temannya yang datang berkunjung ke rumahnya.
Melihat orang-orang menyukai tahu buatannya, Ong Kino pun memutuskan untuk
menjajakan tahu yang dalam bahasa China disebut “daging tak bertulang.” Tahu
inilah yang kemudian menjadi cikal bakal tahu yang tersohor hingga sekarang.
Masih dari
buku yang sama, konon dceritakan bahwa kemahsyuran makanan yang tergolong baru
di Sumedang sampai kepada Pangeran Soeriatmadja. Dalam sebuah perjalanan
menujuk ke Situraja, pangeran lalu mampir ke Tegal Kalong, tempat Ong Kino memproduksi tahu Boen Keng. Seusai mencicipi tahu buatan
Ong Kino, pangeran seperti terhipnotis oleh kunikan rasanya, pangeran kemudian
berkata, “Makanan ini benar-benar enak. Pasti makanan ini akan laku kalau
dijual.” Seperti mantra, kata-kata dari pangeran tersebut benar-benar menjadi
kenyataan. Tahu yang diolah dan dijual oleh keluarga Ong Kino laku keras,
bahkan menjadi salah satu icon
kuliner Sumedang yang terkenal hingga sekarang. Meskipun saat ini tahu Sumedang
bisa kita temui diberbagai tempat bahkan tidak hanya di Sumedang saja. Namun
keunikan rasa dari tahu Sumedang yang asli dari Sumedang sungguh berbeda. Tahu
ini memiliki kekhasan yang memang tak bisa ditiru oleh kuliner daerah lainnya
Pertumbuhan
Agrowisata dan Penguatan Ekonomi Kreatif Sumedang
Siapa yang tak kenal Ubi Cilembu? Ubi yang memiliki keunikan dan kekhasan
layaknya tahu Sumedang ini berasal dari Desa Cilembu. Produk unggulan satu ini
itu bahkan sudah terkenal hingga ke mancanegara. Hasil produksinya sudah di
ekspor ke beberapa negara seperti Korea, bahkan kabarnya Ubi Cilembu pun sudah
mulai menembus pasar Eropa.
Pada tahun 2019 Bupati Sumedang, Dony Ahmad
Munir, mengunjungi kawasan smart farming Ubi Cilembu di Desa Cilembu,
Kecamatan Pamulihan. Beliau melalui akun youtube Bupati Sumedang Official
menjelaskan mengenai rencana pembangunan agrowisata Ubi Cilembu, “Kita akan
membangun agrowisata ubi Cilembu seperti apel Malang. Jadi para wisatawan
datang bisa mencabut, membersihkan
dan mengoven disana, dan pulang dengan
membawa souvenir varian dari ubi Cilembu.”
Konon, lahan pengembangan kawasan agrowisata
smart farming Ubi Cilembu ini seluas 39.636 hektar. Sebuah tempat yang sangat
luas untuk pengadaan suatu destinasi wisata. Hal kreatif seperti ini sebenarnya
sangat bagus untuk dikembangkan diberbagai daerah lainnya. Sumedang bisa
menjadi salah satu daerah percontohan dalam mengelolan ekonomi kretif seperi
halnya melalui agrowisata seperti ini. Sehingga wisatawan merasa pengalaman
yang berbeda saat berwisata.
****
Jalan-jalan, berswafoto, lalu pulang mungkin
sudah biasa ketika bewisata atau berkunjung ke suatu tempat baru dan ingin
menikmati keindahan alamnya. Namun akan
sangat menyenangkan dan mengesankan jika kita bisa berkunjung ke suatu daerah
lalu belajar dari alam yang ada di sana, berbaur dengan masyarakat dan
mempelajari sosial-budayanya, sambil menikmati keindahan alam dari tempat
tesebut. Kabupaten Sumedang merupakan
salah satu tempat yang memiliki potensi besar untuk mewujudkan tempat-tempat
wisata yang menarik seperti itu. Salah satu kabupaten di Jawa Barat ini memiliki
keindahan alam berupa pegunungan, perbukitan, daerah aliran sungai dan udara
sejuk yang menjadi daya tarik pariwisata. Lokasinya strategis karena
dikelilingi kota-kota besar seperti Indramayu, Majalengka, Garut, Bandung,
Subang dan Cirebon.
Kabupaten Sumedang merupakan hinterland dari
ibukota Provinsi Jawa Barat sehingga memiliki letak dan peranan strategis dalam
pengembangan wilayah sebagai bagian dari Kawasan Strategis Nasional Cekungan
Bandung dan Pengembangan Metropolitan Bandung Raya. Letaknya yang berada di
kaki Gunung Tampomas menjadikan kabupaten ini memiliki kawasan Taman wisata
alam (TWA) Gunung Tampomas. Kabupaten Sumedang memiliki karakter wilayah yang
unik. Sebagian wilayahnya berada pada kawasan pegunungan dataran tinggi dan sebagian
lainnya berada pada dataran rendah.
Kondisi ini tentu sangat mendukung dalam
mewujudkan perekonomian daerah yang tangguh dan berkelanjutan berbasis pada agribisnis,
pariwisata dan industri dengan mendayagunakan potensi sosio-ekonomi lokal. Hal
ini sejalan dengan konsep pengembangan agrowisata yang diharapkan dapat
menyesuaikan dengan kapabilitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan sehingga
akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian sumber daya lahan, melestarikan
teknologi lokal, seni dan budaya lokal, dan meningkatkan pendapatan masyarakat
sekitar lokasi wisata.
Secara umum konsep agrowisata
mengandung pengertian suatu kegiatan perjalanan
atau wisata yang dipadukan dengan aspek-aspek kegiatan pertanian. Pengertian ini mengacu pada unsur rekreatif yang memang
sudah menjadi ciri kegiatan wisata, unsur pendidikan dalam
kemasan paket wisatanya, serta unsur sosial ekonomi dalam pembangunan pertanian
dan perdesaan. Dari segi substansinya kegiatan agrowisata. Sutjipta
(Universitas Udayana, 2001) mendefinisikan, agrowisata adalah sebuah sistem
kegiatan yang
terpadu dan terkoordinasi untuk pengembangan pariwisata sekaligus pertanian, dalam
kaitannya dengan pelestarian lingkungan, peningkatan kesajahteraan masyarakat
petani. Dalam Rencana Startegis
Departemen Pertanian 2005-2009 (Badan Penelitian dan Perkembangan Pertanian,
2004), Agrowisata dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (eco-tourism),
yaitu kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam
dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati
keindahan alam, hewan atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana
pendidikan.
Sumdang yang merupakan daerah
agraris memiliki budaya pertanian yang berpotensi besar untuk dikembangkan
menjadi kawasan agrowisata seperti misalnya; Agrowisata vanili di Sumedang. Ini akan menjadi
agrowisata vanili pertama di Indonesia. Masyarakat setempat dan wisatawan diharapkan
dapat berkenalan dengan tanaman perke bunan yang satu ini. Tempat wisata yang
disebut sebagai Kampun Vanili Pamekarsari ini akan menjadi tempat edukasi bagi
masyarakat mulai dari benih, on farm hingga pengolahan. Selain itu wisatawan
juga disuguhkan oleh keindahan alam seperti air terjung, hamparan perkebunan
lada, persawahan, dan pemandangan indah pegunungan.
Selain Agrowisata Ubi Cilembu
dan juga Kampung Vanili Pamekarsari. Sumedang juga memiliki agrowisata Sawah
Menak di Desa Karyamukti dengan konsep wisatawan dapat memetik sendiri Mangga
Gedong Gencu dan Jambu Air Kristal langsung dari pohonnya. Letaknya yang strategis
di pingir jalan nasional membuat wisatawan akan mudah menemukan tempat wisata
yang satu ini. Ada pula agrowisata Kebun
Teh Disbun, sebuah tempat wisata yang menawarkan keindahan alam yang eksotis,
sepanjang maya memdang terhampar hijaunya pegunungan dan juga udaranya yang
sejuk. Terletak di Kaki Gunung Cakrabuana yang belum banyak dijamah oleh
masyarakat membuat tempat ini sangat recomended
dikunjungi bahkan pada saat pandemi covid-19 seperti ini, tentu saja dengan
mengindahkan protokol kesehatan yang sudah dianjurkan.
Sejalan dengen pertumbuhan
agrowisata di Sumedang, hal ini tentu akan berpengaruh kepada perkembangan
ekonomi kreatif. Menurut Institute for
Development Economy and Finance (2015),
ekonomi kreatif adalah proses nilai tambah hasil dari ekspolitasi kekayaan
intelektual berupa kreativitas, kehalian dan bakata individu menjadi produk
yang bisa dijual. Pengembangan aktivitas agrowisata secara langsung dan tidak
langsung akan meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat akan arti
pentingnya pelestarian sumber daya lahan pertanian. Selain itu menurut Subowo dalam
Budiarti (2013), pengembangan agrowisata dapat melestarikan sumber daya,
melestarikan kearifan dan teknologi lokal, dan meningkatkan pendapatan petani
atau masyarakat di sekitar agrowisata. Diharapkan dngan adanya pertumbuhan
agrowisata ini, maka kesejahteran ekonomi masyarakat juga turut meningkat.
Masyarakat Sumedang terutama
yang bertempat tinggal di kawasan pertumbuhan dan pengembangan agrowisata dapat
melakukan berbagai kreatifitas dari hasil pertanian seperti makanan, kerajinan
tangan, alat musik, dan sebagainya yang kemudian dapat dijual sebagai oleh-oleh
bagi para wisatawan yang sedang berkunjung. Hal ini tentu akan menjadi nilai
tambah bagi perkembangan ekonomi masyarakat di Sumedang. Seperti halnya di
Kampung Gelasan yang terletak di Tanjungsari, menjadi salah satu pusat pembuatan
benang gelasan yang sudah di ekspor ke berbagai negara seperti India, pakista,
bahkan menembus pasa Eropa. Ada pula Kampung Kaus kaki di Desa Cikondang,
tempat dimana masyarakat memproduksi kaus
kaki secara massal dalam jumlah yang banyak.
Dalam buku Pengembangan Industri Kreatif 2025, keberhasilan ekonomi kreatif
tak bisa dipisahkan dari keberhasilan memanfaatkan teknologi dan komunikasi. Pemerintah
dan masyarakat harus lebih gencar lagi memasarkan agrowisata Sumedang yang
sudah mulai bertumbuh satu per satu agar dikenal lebih banyak orang. Literasi tulis
Sumedang perlu di gaungkan lebih giat agar wisata yang ada di Sumedang semakin
banyak terbaca oleh para wisatawan di luar sana. Literasi digital Sumedang juga
perlu diperhatikan agar semakin banyak refernsi yang di dengar para calon
wisatawan untuk berkunjung ke Sumedang. Event-event nasional seperti lomba video,
foto, dan lomba menulis mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengenalkan
wisata Sumedang ke dunia luar, seperti halnya “Writingthone Sumedang Paradise in West Java”
yang diadakan oleh Bitread bergandengan dengan pemerintah setempat. Ini bisa
menjadi salah satu contoh yang baik bagi daerah-daerah lain agar dapat
memajukan wisata di daerahnya, karena bagaimanapun juga pertumbuhan pariwisata
memiliki dampak nyata dalam aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Daftar Pustaka
Budiarti, 2013,
Pengembangan Agrowisata Berbasis Masyarakat Pada Usaha Tani Terpadu Guna
Meningkatkan Kesejahteraan Petani Dan Keberlanjutan Sistem Pertanian,
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, Vol 18, No 3. Journal.ipb.ac.id, diakses
tanggal 10 Desember 2019.
Mari Eka Pangestu, 2008, Pengembangan
Industri Kreatif 2025, Studi Industri Kreatif Indonesia, Jakarta:
Departemen Perdagangan Indonesia
Sam Setyautama, 2008, Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia,
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Rencana Startegis Departemen Pertanian 2005-2009, 2004, Jakarta: Badan
Penelitian dan Perkembangan Pertanian
Sutjipta, 2001, Agrowisata,
Bali: Universitas Udayana


Komentar
Posting Komentar