PSIKOTERAPI


Sigmun Freud : Resistensi

   Resistensi merupakan suatu karakteristik sistem pertahanan klien yang berlawanan dengan tujuan konseling atau terapi. Rintangan ini merupakan hasil dari sistem pertahanan luar, yang melindungi klien dari “ancaman situasional”, atau sistem pertahanan dalam yang melindungi klien dari dorongan tidak sadar dari “core system” klien.
  Pada umumnya konselor atau terapis melihat resistensi sebagai sesuatu yang melawan kemajuan dalam pemecahan masalah dan karena itu konselor harus berusaha menguranginya sebanyak mungkin. Akan tetapi konselor atau terapis melihat resistensi sebagi suatu gejala yang penting untuk dianalisa secara intensif. Dengan demikian resistensi hanya merupakan gejala yang normal dalam proses konseling.
   Berdasarkan sumbernya resistensi dapat bersifat internal dan eksternal. Resistensi internal datang dari struktur kepribadian klien dan sebagai respon terhadap ancaman. Resistensi eksternal ditimbulkan sebagai hasil konseling, Pengaruh teknik konselor atau sikap kontertransferensi. Beberapa kondisi dapat menjadi sebuah resistensi seperti kelelahan, penyakit, cacat mental, hambatan bahasa dan psikologis.
  Fungsi positif dari resistensi dalam proses konseling atau terapi yaitu memberikan indikasi kemajuan interview pada umumnya dan dasar untuk rumusan diagnostik dan prognostik, memberikan informasi kepada konselor bahwa ada struktur pertahanan dari klieen sehingga konselor harus mempertimbangkan proses selanjutnya, dan memberikan mekanisme protektif bagi klien melalui sistem pertahanannya.
   Resistensi di manifestasikan dalam sejumlah tingkah laku dalam cara-cara negative dan dalam bentuk yang agresif. Bugental mengemukakan lima tingkatan intensitas gejala resistensi mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi intensitasnya:


Gambar 1
   Langkah pertama yang harus ditempuh oleh konselor dalam menghadapi resistensi ialah membuat dirinya sadar terhadap kemungkinan sebab-sebab eksternal dalam dirinya dan pengaruh teknik-teknik yang digunakan. Langkah selanjutnya adalah mengambil kebijaksanaan berikut:
1.    Tidak menghiraukan gejala , tetapi waspada terhadap peningkatan resistensi. 
2.   Teknik adaptasi minor, yaitu melakukan sesuatu tindakan untuk mengurangi resistensi. Teknik adaptasi ini dapat dilakukan dengan cara mengurangi pengaruh emosional, mengubah kecepatan, menggunakan humor, dorongan dan penerimaan. 
3.     Mengarahakan kembali isi interview kepada hal-hal yang dapat mengurangi resistensi. 
4.    Teknik penanganan secara langsung dengan cara interpretasi resistensi, refleksi perasaan resistensi, referal dan ancaman
   Didalam psikoanalisa Sigmun Freud, Resistensi dipandang sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisis, bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien menampilkan hal-hal yang tidak disadari selama asosiasi bebas atau asosiasi mimpi. Klien mungkin menunjukkan ketidak mauan untuk mengaitkan pikiran, perasaan dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.
   Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi. Sebagai ketentuan umum konselor meminta perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling nampak untuk memperkecil kemungkinan penolakan klien terhadap interpretasi. Resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadap kecemasan.

Komentar

Postingan Populer