Psikoterapi II



Hakikat Manusia Sebagai Al-Insan (Fungsi, Potensi dan Kebutuhan Manusia pada Terapi dan Psikoterapi Islam)
: c :

A.    Definisi Manusia
Manusia adalah salah satu makhluk Allah yang paling sempurna, baik dari aspek jasmaniyah maupun rohaniah. Karena kesempurnaannya itulah, untuk dapat memahami, mengenal secara dalam dan totalitas dibutuhkan keahliaanya yang spesifik. Dan hal itu tidak mungkin dapat dilakukan tanpa melalui studi yang panjang.
Para ahli telah mendefinisikan manusia dengan berbagai pengertian, seperti yang dikemukakan oleh Adi Negoro bahwa manusia adalah alam kecil sebagian dari alam besar yang ada di atas bumi, sebagian dari makhluk yang bernyawa, sebagian dari bangsa Antropomorphen, binatang yang menyusui, dan makhluk yang mengetahui dan dapat menguasai kekuatan-kekuatan alam, di luar dan di dalam dirinya (lahir dan batin).
Hakikat manusia sebagai al-insan bermakna manusia mempunyai dua unsur kemanusiaanya, yaitu aspek lahiriyah dan aspek bathiniyah. Kata “insan” diambil dari asal kata “uns” yang mempunyai arti jinak, tidak liar, senang hati, tampak atau terlihat, seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia di dalam sebaik-baiknya bentuk”. (Q.S at Tiin: 4).
Sedangkankata Ins dan Unas, menunjukan sifat dasar manusia adalah fitri yang terpancar dari alam rohaninya, yaitu gemar bersahabat, ramah dan sopan santun serta taat kepada Allah Ta’ala.

B.     Asal Usul Manusia
Manusia secara esensial berasal dari Allah SWT, bersifat Nur (cahaya), ruh (hidup) dan gaib (tidak tampak oleh mata kasar). Ia tidak dapat didefinisikan oleh kata-kata, huruf, bunyi ataupun sesuatu melainkan hanya Dialah yang dapat mengetahui dan memahaminya. Sedangkan usul dari manusia adalah berasal dari air mani dan tanah. Atau dengan kata lain, jika seseorang manusia ditinjau secara asalnya, maka ia bersifat ruhaniyah, sedangkan secara usulnya berarti ia bersifat jasmaniyah.
1.      Asal ruhaniyah
Ruhani, merupakan unsur  paling halus, bersifat suci dan Ilahi karena dianggap berasal dari Ilahi, kecenderungannya kepada yang suci, bersih dan mulia, kekal dalam arti tidak hancur seperti hancurnya badan jasmani.
2.      Asal jasmaniah
Jasmani, terdiri dari badan kasar, berupa wujud fisik, sifatnya tergantung pada materi dan memiliki kecenderungan biologis, dapat hancur dan rusak, tetapi merupakan tempat penting bagi eksistensi dan wadahnya unsur kehidupan. Adapun asal jasmaniah yaitu air, tanah debu, saripati tanah, tanah liat, tanah lumpur, tanah seperti tembikar, tanah bumi dan berbentuk tubuh.
3.      Asal nafsani
Nafsani, merupakan unsur penghubung antara jasmani dan rohani, karena itu dapat bersifat dan kecenderungan seperti jasmani, tetapi di sisi lain juga memiliki kecenderungan dan sifat seperti halnya rohani. Disebut dalam Al-Quran yang artinya:
“Maka Allah mengilahmkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, Sesungguhnya beruntuglah orang yang mensucikan jiwa itu” (Q.S As-Syams: 8-9)
4.      Asal melalui proses keturunan Adam
Bermula dari airmani, dalam rahim/kandungan ibu dan proses kejadian dalam kandungan.

C.    Potensi Manusia
Manusia di hadapan Allah Ta’ala bukanlah makhuk-Nya yang lain, akan tetapi seorang makhluk yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan jatuhnya pilihan-Nya kepadanya sebagai “khalifah”, yakni menaburkan potensi keselarasan, kemanfaatan, musyawarah dan kasih sayang ke seluruh penjuru alam, baik alam di bumi maupun di langit, di dunia maupun di akhirat.


Potensi-potensi yang ada dalam diri manusia adalah:
1.      Potensi nur ilahiyah
Potensi Nur Illahiyah adalah potensi yang paling tinggi dan bersifat luas, gaib dan tidak terbatas, karena ia sangat sangat dekat dengan eksistensi Allah SWT.
2.      Potensi ruh illahiyah
Ruh diciptakan di alam ruh ('alam arwah) atau di alam perjanjian. Karena itu ruh ada sebelum tubuh manusia itu ada sehingga sifatnya sangat gaib yang adanya hanya diketahui melalui informasi wahyu. Ruh melekat pada diri manusia. Ruh ini dapat dikatakan sebagai fitrah asal yang menjadi esensi (hakikat) struktur manusia. Fungsinya berguna untuk memberikan motivasi dan menjadikan dinamisasi tingkah laku. Ruh ini membimbing kehidupan spiritual nafsani manusia untuk menuju pancaran nur ilahi yang suci yang menerangi ruangan nafsani manusia, meluruskan akal budi dan mengendalikan impuls-impuls rendah. Wujud ruh al-munazzalah adalah al-amanah. Fazlur Rahman menyatakan bahwa amanah merupakan inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan, tanpa amanah manusia tidak memiliki keunikan dengan mahluk-mahluk lain. Amanah adalah titipan atau kepercayaan Allah yang dibebankan kepada manusia untuk menjadi hamba dan khalifah di muka bumi
3.      Potensi nafs illahiyah
Dalam prespektif bahasa kata “nafs” memiliki beberapa arti, seperti jiwa, darah, badan, dan orang. Dr. M.Quraish Shihab M.A menyatakan bahwa kata nafs dalam Al Qur’an mempunyai beberapa makna, sekali diartikan sebagai totalias manusia. Pengertian nafs di sini adalah yang berhubungan dengan eksistensi seorang manusia sebagai hamba Allah SWT.
4.      Potensi qalb illahiyah
Asal kata “Qalb” bermakna membalikan, memalingkan atau menjadikan yang di atas ke bawah yang di dalam keluar. Qalbu berasal dalam kata benda mengandung arti lubuk hati, akal, kekuatan, semangat, dan keberanian. Pengertian qalb adalah dalam makna rohaniyah dan ia tidak dapat di lihat dengan kepala mata kepala, kecuali dengan pengelihatan batiniyah. Ia merupakan tempat menerima perasaan kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, kekuatan, keimanan, keislaman, keikhlasan dan ketauhidan.
5.      Potensi akal illahiyah
Al Qur’an menggunakan kata ‘aql ini untuk sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjeruumus dalam kesalahan atau dosa.
6.      Potensi indrawi illahiyah
Allah SWT menjadikan kesempurnaan yang lengkap dalam diri seseorang manusia dengan potensi inderawi yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman,dan peraba. Kelima cabang atau macam potensi inderawi itu pun memiliki berbagai tingkatan dan bobot. Bagi orang kebanyakan kelimanya hanya sekedar pelengkap sebagai manusia yang hidup, akan tetapi mereka tidak dapat memahami secara lebih spesifik, bahwa kelimanya mempunyai fungsi Ilahiyah yang besar.

D.    Kebutuhan Manusia terhadap Terapi dan Psikoterapi Islam
Psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologi terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan keperibadian. Psikoterapi adalah proses di mana para profesional kesehatan mental melihat untuk membantu orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental dan gangguan mental. Psikoterapi prosesnya difokuskan untuk membantu menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan.
Asal muasal manusia jika dikaitkan dengan persoalan psikoterapi Islam, akan terdapat dua penyakit batin manusia, yaitu:
1.      Penyakit Nafsani, tidak lain adalah apa yang disebut gangguan dan penyakit jiwa dalam psikologi. Berakibat kepada sehat-sakitnya seseorang, berdimensi duniawi bahkan jika pun terkena penyakit jiwa yang parah, yaitu gila, manusianya tidak terkena taklif hukum agama.
2.      Penyakit Ruhani, adalah penyakit yang menggerogoti kesucian ruh, berakibat kepada baik-buruknya seseorang, ia berdampak baik terhadap perilaku dunia bahkan sampai ke akhirat, misalnya jenis penyakit ini murtad, musyrik, kafir, munafik, hasud, dan lain-lain.
Karena itu dalam prespektif psikoterapi Islam, psikoterapi itu ada dua jenis, yaitu:
1.      Psikoterapi Duniawi, yaitu merupakan hasil ijtihadi manusia berupa metode dan teknik pengobatan kejiwaan yang didasarkan kepada kaidah-kaidah hasil akal pikiran manusia.
2.      Psikoterapi Ukhrawi, yaitu merupakan terapi tekait dengan bagaimana manusia dapat hidayah dan wahbah yang berisi kerangka ideologis dan teologis dan memiliki program penyelamatan manusia di dunia dan di akhirat
Urgensi Psikoterapi Islam bagi manusia merujuk pada dua predikat, yaitu:
1.      Sebagai makhluk yang lemah (‘abdun).
Dalam kondisi fisik yang tak berdaya, orang membutuhkan bantuan orang lain, dokter misalnya untuk memulihkan kesehatannya. Demikian pula dalam kondisi mental yang kacau, seseorang membutuhkan bantuan kejiwaan, untuk memulihkan rasa percaya dirinya, meluruskan cara berfikir, cara pandang dan cara merangsangnya sehingga ia kembali realistis, mampu melihat kenyataan sebenarnya dan mampu mengatsi problemnya dengan cara-cara yang apat dipertanggung jawabkan.
2.      Sebagai Khalifah Allah.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam, seorang muslim sebagai khalifah Allah terpanggil untuk membantu orang lain yang sedang mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan orang itu tak mampu mengatasi tugas-tugas nya dalam kehidupan.
Selain merujuk pada dua predikat tersebut, di sini juga disinggung beberapa urgensi psikoterapi islam, diantaranya:
1.      Manusia yang tidak lepas dari masalah.
2.      Untuk menemukan jati diri manusia itu sendiri.
3.      Untuk mencapai kesejahteraan.
4.      Mengubah kebiasaan dan membentuk tingkah laku baru
5.      Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol dan kreativitas diri.
6.      Meningkatkan hubungan antar pribadi
7.      Membantu klien mengembangkan potensinya,
Untuk mengetahui kedudukan psikoterapi islam, dalam prespektif keilmuan maupun prespektif Islam, sekurangnya perlu diketahui:
1.      Bantuan kodrat kejiwaan manusia membutuhkan bantuan psikologis.
2.      Gangguan kejiwaan yang berbeda membutuhkan terapi yang tepat.
3.      Meskipun manusia memiliki fitrah kejiwaan yang cenderung pada keadilan dan kebenaran, tetapi daya tarik kepada keburukan lebih banyak dan lebih kuat tarikannya sehingga motif kepada keburukan lebih cepat merespon stimulus kebenaran, mendahului respon motif kepada kebaikan atas stimulus kebaikan.

Komentar

Postingan Populer