SELF LIMITING BELIEFE


  
Self – Limiting – Beliefe



Self-limiting-beliefe yang bisa disebut juga dengan keyakinan-keyakinan yang salah. Jika self-limiting-beliefe ini sudah ada dalam diri, maka akan menjadi penghambat kehidupan untuk berubah menjadi lebih baik, maju, dan menjadi lebih pantas. Self limiting beliefe ini bersifat melamahkan diri. Hampir semua kepercayaan yang membatasi diri sama sekali tidak benar. Kepercayaan ini terbentuk berdasarkan informasi negatif yang masuk ke dalam hati dan kita menerima hal ini sebagai sesuatu yang benar. Begitu kita menerima kepercayaan itu sebagai sesuatu yang benar, maka kepercayaan itu akan menjadi realita. Self limiting beliefe dapat terbentuk  karena beberapa faktor seperti, pengalaman, pendidikan, logika yang salah, ketakutan dan khawatir.
A.    Contoh Kasus 1
Seorang mahasiswa dengan kepercayaan diri rendah meyakini bahwa dirinya bodoh dan tidak akan pernah mampu berbicara didepan umum, dia merasa dirinya hanya akan menjadi bahan tertawaan jika berdiri didepan khalayak ramai. Bahkan mulutnnya seakan terkunci rapat saat berada di depan orang banyak. Dia selalu membayangkan dirinya menjadi bahan tertawaan, dia juga selalu beripikir bahwasanya orang bodoh tidak akan bisa berbicara didepan umum.
Adapun tahap yang harus dilaluinya agar tidak lagi memiliki keyakinan bahwa dirinya bodoh dan tidak percaya diri yaitu ada lima, tahap-tahap ini yang diajarkan oleh Ikhwan Sopa didalam bukunya “Manajemen Pikiran dan Perasaan” :
  • Tahap pertama yaitu, pengisolasian limiting beliefe yang ada didalam dirinya, mengkikis habis keyakinan tentang dirinya bodoh dan tidak mampu berbicara didepan umum.
  • Tahap selanjutnya setelah itu, yaitu menemukan sumber dia memiliki keyakinan tersebut. Melihat kembali dasar keyakinan tersebut terbentuk dan sejak kapan keyakinan tersebut terbentuk.Setelah menemukan sumbernya, masuk ketahap tiga yaitu mengenali limiting beliefe yang ada didalam dirinya tersebut, koreksi kembali apa saja kerugian yang telah dirinya dapatkan dengan keyakinan tersebut. Apa ada keuntungan memiliki keyakinan seperti itu, jika ada maka bandingkan mana yang jauh lebih banyak antara kelebihan dan kerugian dengan memiliki keyakinan seperti itu. Setelah itu dirinya akan menyadari bahwa adanya kerugian yang banyak. Mulailah menyadari bahwa manusia tidak sempurna dan selalu memiliki kesalahan dan kekurangan. Mulailah mengerti bahwa dia sedang dalam proses belajar, wajar jika melakukan kesalahan.
  •   Tahap selanjutnya yaitu, tahap menguatkan diri. Pada tahap ini bisa dengan meyakinkan diri sendiri bahwa “Saya tidak bodoh, saya pasti bisa!” “Saya bisa berbicara didepan umum, dan saya tidak bodoh” tanamkan itu terus didalam diri, dan terus berpikiran positif. 
  •  Tahapan terakhir yaitu, dengan membuktikan bahwa dirinya bisa berbicara didepan umum dan tidak bodoh, mencoba dan terus mencoba. Dan setelah berhasil jangan lupa berikan pujian pada diri sendiri, bahwasanya “saya hebat” dan berikan hadiah pada diri sendiri, jangan lupa bersyukur pada Yang Maha Kuasa, karena Dialah yang menciptakan diri yang luarbiasa ini.

B.     Contoh Kasus 2 (Saya ambil dari kisah diri saya, dan penyelesaian menurut saya)
Dulu saya berada di sekolah menengah pertama, saya sempat merasa tidak akan bisa menulis dan menghasilkan karya-karya yang baik. Ketika ada suatu pengupasan hasil tulisan di sebuah forum, karya saya selalu mendapat kritikan tajam. Kesalahan selalu menyudutkan saya dan melemahkan keinginan saya untuk terus menulis. Para mentor selalu bilang saya masih banyak kekurangan dan sangat buruk, mereka mengkritik saya tanpa memberi saya motivasi agar lebih baik lagi, hal ini tentu saja membuat saya tidak suka dengan dunia penulisan, dan keadaan semakin buruk saat teman-teman satu forum mengatakan bahwa saya “Tidak Pantas” untuk menulis, kata mereka karya saya masih jauh dibawah standar. Semenjak saat itu saya merasa minder, jangan kan untuk bergabung diforum penulisan lagi, untuk bertemu dengan orang-orang yang selalu mengkritik pun saya takut dan malu. Hal ini membatasi ruang gerak saya, karena salah satu hoby saya adalah menulis, walhasil saya hanya bisa menulis untuk diri sendiri. Tulis sendiri, baca sendiri, koreksi sendiri. Muehehehe.. Saya tidak pernah menunjukkan karya saya pada siapapun. Saya menjadi takut menerima kritikan dan komentar dalam hal apapun. Karena saya meyakini bahwa kritikan dan komentar hanya sekedar untuk menjatuhkan dan meremehkan.
Adapun tahap-tahap yang saya lalui untuk menghilangkan keyakinan yang tidak benar tersebut adalah:
  •   Awal yang saya lakukan untuk membuang keyakinan bahwa kritikan dan komentar hanya sekedar untuk menjatuhkan dan meremehkan adalah dengan melihat kebelakang. Saya mengingat kembali apa yang menyebabkan saya sampai ketahap tersebut? Tahap yang mana? Tahap dimana saya tidak suka dikritik, Ya.. saya mencoba kembali mengoreksi awal mula dan sudah berapa lama saya tidak suka di kritik. Saya mengingat siapa-siapa saja yang terlibat didalam pembentukan keyakinan tersebut. Selanjutnya,
  •  Tahap kedua, saya mencoba meyakinkan diri saya bahwa kritikan tidak selalu menjatuhkan dan meremehkan. Biasanya ketika dikritik saya akan berusaha tidak mendengar, akan pada tahap ini saya menahan diri untuk terus mendengar kritikan yang ditujukan pada saya. Walau terkadang hanya menjadi sebuah koreksi yang menyakitkan hati, saya terus mendengar.
  •  Selanjutnya, ketika saya sudah mulai mendengar. Saya melihat. Melihat dimana tidak hanya saya yang menerima kritikan, masih banyak teman-teman yang menerima kritikan seperti saya, bahkan mungkin jauh lebih buruk lagi, akan tetapi mereka terlihat santai dan tidak dimasukkan dihati. Mereka malah mengkoreksi diri melalui kritikan tersebut. Dari itu saya meenyadarai bahwa banyak ketidaksempurnaan pada diri setiap manusia, saya butuh orang lain untuk mengkoreksi titik-titik kesalahan yang tidak saya sadari. Saya mencoba menghilangkan pikiran negatif kritikan hanyalah untuk menjatuhkan dan merendakan saya. Saya merubah mindset saya mengenai kritikan. Saya mengulang-ulang bahwasanya kritikan bukanlah untuk menjatuhkan atau meremehkan, akan tetapi kritikan adalah cara agar saya mampu memperbaiki kesalahan saya dan menjadi lebih baik lagi. 
  •   Tahap selanjutnya, saya menerapkan keyakinan baru mengenai kritikan adalah cara untuk menjadi lebih baik lagi. Saya mencoba dan terus mencoba. Saya meyakinkan diri saya bahwa saya bisa menerima kritik dengan baik, karena setelahnya saya akan menjadi jauh lebih baik. Saya bisa, saya bisa! Itu terus saya tanamkan diri saya, saya membuang rasa sakit hati ketika menerima kritikan, begitu terus saya lakukan dan saya coba.
  •    Tahapan yang terakhir yang saya lalui adalah membuktikan bahwa saya mampu menerima kritikan dengan baik. Melalu sebuah group kepenulisan di facebook, saya mencoba mengirimkan naskah saya yang selama ini hanya tersimpan dikoleksi pribadi. Postingan pertama, saya terabaikan. Hanya ada beberapa komentar pedas dari beberapa orang, yang mengkritik tanpa memberikan solusi. Saya menerimanya kritikan tersebut dan tidak saya tanggapi. Tidak puas sampai disitu saya memposting tulisan kedua dan ketiga saya, dan Alhamdulillah karya saya dikritik oleh sensei dan bebrapa penulis yang terbilang hebat diIndonesia. Awal menerima kritikan memang merasa agak menyebalkan, ditambah mereka benar-benar mengkoreksi dengan detail dan menyuruh merubah karya asli saya dengan beberapa masukan dari mereka. Tapi setelah saya mengikuti dan menerimanya, Alhamdulillah hasil tulisan saya mendapat komentar yang berisi pujian dari beberapa sensei yang membaca setelah editing. Bahkan tanpa saya sadari ada beberapa orang yang malah meminta saya mengomentari dan mengkritik karya mereka setelah mereka membaca karya saya. Alhamdulillah ternyata seorang Suriyati adalah manusia yang tanpa saya sadari merupakan sosok yang luarbiasa. Saya juga sudah tidak menghindari kritikan darimanapun, olehsiapapun dan kapanpun.
      
Sumber: 
Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"










Komentar

Postingan Populer