Psikologi Remaja
Perubahan Sosial Remaja
A. Kuatnya
Pengaruh Kelompok Sebaya
Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga
diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma
kelompok, moral, dan tradisi juga melaburkan diri menjadi satu kesatuan dan
saling berkomunikasi dan bekerjasama.
Pada
dasarnya anak yang dilahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti, dia belum
memiliki kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. Untuk mencapai kematangan
sosial dia harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain.
Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang
tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau
norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh
kepada anaknya bagaimana menerapkan
norma tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.[1]
Menurut
Hurlock (1996) ada tiga proses dalam perkembangan sosial yaitu:
a) Berperilaku
dapat diterima secara sosial.
b) Memainkan
peran di lingkungan sosialnya.
c) Memiliki
sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya.[2]
Perkembangan sosial pada masa remaja
dapat dilihat dari dua ciri khas yaitu dari mulai terbentuknya kelompok dengan
teman sebaya baik dengan jenis kelamin yang sama ataupun dengan jenis kelamin
yang berbeda dan mulai memisahkan diri dari orang tuanya.
Remaja pada umumnya memiliki kebutuhan
yang kuat untuk disukai dan diterima oleh teman sebaya. Sebagai akibatnya,
mereka akan merasa senang apabila diterima dan sebaliknya merasa tertekan dan
cemas apabila dikeluarkan dan diremehkan oleh teman-teman sebayanya. Bagi
kebanyakan remaja, pandangan teman sebaya terhadap dirinya merupakan hal yang
paling penting.
Teman sebaya merupakan anak-anak atau
remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama.
interaksi diantara teman sebaya yang berusia sama sangat berperan penting dalam
perkembangan sosial. Pertemanan berdasarkan tingkat usia dengan sendirinya akan
terjadi meskipun sekolah tidak menerapkan sistem usia. Remaja dibiarkan untuk
menentukan sendiri komposisi masyarakat mereka. Bagaimanapun, seseorang dapat
belajar menjadi petarung yang baik hanya jika diantara teman yang seusianya.
Salah satu fungsi terpenting dari teman sebaya adalah sebagai sumber informasi
mengenai dunia di luar keluarga. Remaja memperoleh umpan balik mengenai
kemampuannya dari teman-teman sebayanya. Dan remaja mempelajari bahwa apa yang
mereka lakukan itu lebih baik.[3]
Berikut adalah beberapa pengaruh teman
sebaya terhadap perkembangan sosial remaja:
- Teman-teman sebaya menyediakan suatu lingkungan, yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi dengan nilai yang berlaku, bukan lagi nilai yang ditetapkan oleh orang dewasa, melainkan oleh teman seusianya, dan tempat dalam rangka remaja menemukan jati dirinya. Namun, apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif, maka akan menimbulkan bahaya bagi perkembangan jiwa remaja.
- Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Hans Sebald bahwa teman sebaya lebih memberikan pengaruh dalam memilih: cara berpakaian, hobi, perkumpulan (club), dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
- Kuatnya pengaruh kelopok teman sebaya juga merupakan akibat melemahnya ikatan remaja dengan orang tua dan sekolah.
- Banyaknya waktu yang diluangkan remaja di luar rumah dengan teman sebayanya daripada dengan orang tuanya adalah salah satu alasan pokok pentingnya peran teman sebaya bagi remaja.
Teman
sebaya adalah lingkungan kedua setelah keluarga, yang berpengaruh bagi
kehidupan remaja. Terpengaruh atau tidaknya remaja terhadap teman sebaya
tergantung pada persepsi remaja terhadap teman-temannya, sebab persepsi remaja
terhadap teman sebayanya akan menentukan keputusan yang diambil oleh remaja itu
sendiri, yang nantinya akan mengarahkan pada tinggi atau rendahnya
kecenderungan kenakalan remaja. Menurut Gerungan, kenakalan remaja muncul
akibat terjadinya interaksi sosial antara individu (remaja) dengan teman
sebayanya.
B. Perubahan
dalam Perilaku Sosial
Dari
semua perubahan yang terjad dalam sikap dan perilaku sosial, yang paling
menonjol terjadi dibidang hubungan heteroseksual. Dalam waktu yang singkat
remaja mengadakan perubahan radikal, yaitu dari tidak menyukai lawan jenis
sebagai teman menjadi lebih menyukai teman dari lawan jenisnya daripada teman
sejenis.
C. Pengelompokan
Sosial Baru
Tahapan
remaja menurut Hurlock, remaja dimulai dari tahap pubertas saat berusia 12-14
tahun, tahap remaja awal yaitu 14-17 tahun. Tahap remaja akhir 17-21 tahun.
Pada masa persiapan fisik, yang paling menyolok pada diri remaja adalah
perubahan fisik yang sedang dialaminya. Pada saat remaja memasuki masa
persiapan diri, pada umumnya kematangan tubuh dan kedewasaan seksual sudah
tercapai. Pada masa ini ia sedang menyiapkan diri menuju pembentukan pribadi
yang dewasa. Pada masa persiapan dewasa, remaja diharapkan sudah mencapai
status kedewasaan dalam lingkungan keluarga.
Pada
masa ini ia harus menyiapkan masa depan, peran dan penempatan dirinya dalam
masyarakat. Selain itu remaja akan lebih selalu mendapatkan saran mengenai
dirinya dan masalah-masalah yang ada di kelompok sebayanya. Remaja mulai
mengorientasikan dirinya terhadap teman sebayanya, yaitu mereka mulai meletakkan
kepentinganyang kuat pada hubungannya, meminta saran teman daripada orang
tuanya,menjadi rentan terhadap pengaruh teman sebayanya dan mengorbankan apapun
demi menjaga hubungan baik dengan teman sebayanya.[4]
Pengelompokan
sosial yang paling sering terjadi selama masa remaja yaitu: teman dekat,
kelompok kecil, kelompok besar, kelom yang terorganisir, dan kelompok geng.
D. Nilai
Baru dalam Memilih Teman
Penelitian
mengenai apa yang diinginkan remaja sebagai teman, Joseph menunjukkan bahwa
sebagian remaja mengatakan mereka ingin “ seseorang yang dapat dipercaya,
seseorang yang dapat diajak bicara, seseorang yang dapat diandalkan’. Karena
adanya perubahan nilai maka teman semasa kanak-kanak belum tentu menjadi teman
dalam masa remaja. Pada remaja juga tidak lagi hanya menaruh minat pada
teman-teman sejenis. Minat lawan jenis bertambah besar selama masa remaja.
E. Nilai
Baru dalam Penerimaan Sosial
Seperti
halnya adanya nilai baru mengenai teman-temannya, remaja juga mempunyai nilai
baru dalam menerima atau tidak menerima anggota-anggota berbagai kelompok.
Demikian pula, tidak ada satu sifat pola atau perilaku yang menjauhkan remaja
dariteman-teman sebayanya. Namun ada pengelompokan sifat “sindroma alienasi
yang membuat orang lain tidak menyukai dan menolaknya.
Kondisi-kondisi
yang menyebabkan remaja diterima atau ditolak :
- Sindroma penerimaan:
a.
Kesan pertama yang menyenangkan sebagai
akibat dfari yangmenarik perhatian, sikap yang tenang, dan gembira.
b.
Reputasi sebagai orang yang sportif dan
menyenangkan.
c.
Penampilan diri yang sesuai dengan
penampilan teman-teman sebaya.
d.
Perilaku sosial ditandai oleh kerja
sama, tanggung jawab, panjang akal, kesenangan bersama orang lain, bijaksana
dan sopan.
e.
Matang, terutama dalam hal pengendalin
emosi serta kemauan untuk mengikuti peraturan-peraturan.
f.
Sifat keperibadian yang menimbulkan
penyesuaian sosial yang baik.
g.
Status sosial ekonomi,
h.
Temapt tinggal yang dekat dengan
kelompok.
- Sistem alienasi:
a. Kesan
pertama yang kurang baik karena penampilan diri yang kurang menarik atau sikap
menjauhkan diri, yang mementingkan diri sendiri.
b. Terkenal
sebagai orang yang tidak sportif.
c. Penampilan
yang tidak sesuai dengan standar kelompok dalm hal daya tarik fisik atau
kerapian.
d. Perilaku
sosial yang ditandai oleh perilaku menonjolkan diri.
e. Kurangnya
kematangan.
f. Sifat-sifat
yang mengganggu orang lain.
g. Status
sosial ekonominya berada dibawah status sosial ekonomi kelompok dan hubungan
yang buruk dengan anggota-anggota keluarga.
h. Tempat
tinggal yang terpencil.
F. Nilai
Baru dalam Pemilihan Pemimpin
Pada umumnya,
pemimpin dalam berbagai kegiatan sosial remaja berasal dari keluarga yang
status sosial ekonomi keluarga remaja yang bukan pemimpin. Keadaan tidak hanya
membuat presitise dalam pandangan teman-teman sebaya, tetapi juga memungkinkan
mereka berpakaian lebih baik dan rapi, memiliki pengertian tentang berbagai
masalah sosial, memiliki kesempatan untuk menyenangkan orang lain dan
berpartisipasi dalam setiap kegiatan kelompok.
DAFTAR
PUSTAKA
Daradjat
zakiah. 2000. Remaja dan Harapan dan Tantangan. Jakarta: Ruhama.
Santrock
John W. 2007. Remaja. Jakarta: Erlangga
Woolfolk
Anita. 2009. Educational Psychology Active Learning Edition Edisi kesepuluh.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yuanita Sari. 2011. Fenomena dan
Tantangan Remaja Menjelang Dewasa. Yogyakarta: Brilliant Books.
Yusuf Syamsu, LN. 2002.
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Komentar
Posting Komentar